Selasa, 17 Januari 2012

Seni Budaya Semester Genap

STANDAR KOMPETENSI         :
5.     Mengapresiasi karya seni tari
KOMPETENSI DASAR  :
5.1   Mengidentifikasi jenis, peran dan perkembangan tari

 INDIKATOR                             :
·            Tari diidentifikasikan sesuai dengan jenis, peran dan perkembangannya dengan rasa cinta tanah air, rasa ingin tahu dan peduli lingkungan
·            Hasil identifikasi diaplikasikan dalam bentuk tari dan diperagakan dengan jujur, demokrasi, peduli lingkungan, kerja, sama, toleransi dan disiplin
·            Hasil identifikasi tari ditampilkan dengan sikap yang benar secara jujur, disiplin, kreatif dan kerja sama
                                   
Materi Pembelajaran :
·               Jenis, peran dan perkembangan tari

Alokasi Waktu             :
4 x 40 Menit


Materi :

I.    Jenis – Jenis Tari
Tari dapat dibedakan berdasarkan bermaca-macam jenis, diantaranya :

A.    Berdasarkan fungsinya
1)    Tari Upacara
a)    Upacara keagamaan
(1)   Tari Sang Hyang, Gabor, Wayang Uwong, Gambuh (Bali)
(2)   Ngalase (Jawa Barat), Sanyang (Jawa Timur) dan Seblang (Banyuwangi)
(3)   Randai, Tortor (Sumatra)
(4)   Tari Gantan dan Tari Huda (Kalimantan)
(5)   Tari Mon dan Tari Tewadan (Papua)
(6)   Tari Reko Tenda (Flores)
(7)   Tari Ma’gellu, Tari Pa’gellu, Tari Bissu dan Tari Bataran (Sulawesi)
b)    Upacara Kebesaran keistanaan (Kraton)
(1)   Tari Legong Kraton (Bali)
(2)   Tari Bedaya Semang (Yogyakarta), Bedaya Kesawang (Surakarta), Srimpi (Jawa Timur) dan Beskalan (Situbondo)
(3)   Gending Sriwijaya (Palembang)
(4)   Tari Patudu dan Tari Pojoge (Makasar)
(5)   Tari gembu (Sumenep)
c)     Upacara penting dalam kehidupan manusia
(1)   Upacara panen dirayakan dengan Tari Pakarena (Sulawesi Tenggara) dan Tari Manimbo (Toraja)
(2)   Upacara khitanan dirayakan dengan Tari Sisingaan (Subang) dan Tari Jaranan Buto (Blitar)
(3)   Upacara perkawinan dimeriahkan dengan Tari Beksan dan Tari Lawung (Yogyakarta)
(4)   Upacara kematian menggunakan Tari Ma’Badong (Sulawesi), Tari Ma’Maropkba, Tari Ma’Randing (Sulawesi)
(5)   Upacara maju perang menggunakan Tari Mandan (Kalimantan), Tari Karja (Sulawesi Timur)
(6)   Upacara mengambil air dimeriahkan dengan Tari Buyung (Flores)
2)    Tari pergaulan atau hiburan
(1)   Tari Bumbung (Bali)
(2)   Tari Lengger (Jawa)
(3)   Tari Gandrung Banyuwangi (Jaw Timur)
(4)   Tari Ronggeng dan Rantak Kudo (Sumatra)
(5)   Tari Pancar dan Tari Gole-Gole (Papua)
3)    Tari pertunjukkan
(1)   Tari Pendet (Bali)
(2)   Tari Tayuban (Jawa Barat)
(3)   Tari Ngremo (Jawa Timur)

B.    Berdasarkan bentuk penyajiannya (jumlah penari)
1)    Tari Tunggal, yaitu jenis tari yang dimainkan oleh seorang penari.
(1)   Tri yang ari Gatotkaca
(2)   Tari Topeng Klana (Klono Topeng)
(3)   Tari Anjasmara
(4)   Tari Gambir Anom
(5)   Tari Panji
2)    Tari Berpasangan, yaitu jenis tari yang dibawakan oleh dua penari yangsatu dengan yang lainnya saling melengkapi.
(1)   Tari Damarwulan
(2)   Tari Rara Mendut
(3)   Tari Perang Sugriwo-Subali
3)    Tari Masal, yaitu jenis tari yang dibawakan oleh lebih dari satu orang penari tanpa ada unsure saling melengkapi.
(1)   Tari Gambyong (Surakarta)
(2)   Tari Golek (Yogayakarta)
(3)   Tari Mafia (Irian Jaya)
(4)   Tari Merak dan Tari Sulinrang (Jawa Barat)
(5)   Tari Saman dan Tari Sage (Aceh)
(6)   Tari Tanjung Katung (Sumatera Barat)
(7)   Tari Lenso (Ambon)
4)    Drama Tari, yaitu jjenis tari yang dibawakan oleh beberapa orang penari yang disajikan dalam bentuk cerita yang terbagi atas babak-babak (adegan-adegan).
(1)   Wayang Wong (Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali)
(2)   Wayang Topeng (Cirebon)
(3)   Randai (Riau) dan Makyong (Sumatra)
(4)   Langendriyan Kidung (Yogyakarta dan Surakarta)

C.    Berdasarkan pola garapan (Koreografi)
1)    Tari rakyat
Yaitu tari yang berkembang di kalangan pedesaan serta belum mempunyai norma-norma dan aturan tertentu. Bersifat sederhana dan menyatu dengan kehidupan masyarkat, terkadang bersifat sakral.
2)    Tari klasik
Yaitu tari yang telah mengalami perkembangan penggarapan mencapai kristalisasi dan norma-norma tertentu. Tari klasik tumbuh dan berkembang di lingkungan bangsawan atau keraton dan memiliki nilai artistik yang tinggi.
3)    Tari kreasi baru
Yaitu tari dengan penggarapan yang baru, yang memiliki cirri-ciri antara lain : gagasan (ide) dan sikap dominan/ekspresif, mengarah pada inti masalah.
4)    Tari daerah setempat (tradisional)
Yaitu tari yang bersumber dari tradisi dan karakteristik daerah setempat.
(1)   Bali : Tari Pendet, Legong Keraton dan Panji Semirang
(2)   Surakarta : Retno Pamudya, Gambyong, Bedhoyo dan Srimpi
(3)   Sulawesi : Tari Pakarena, Maengket dan Jepin
(4)   Mataram (Yogyakarta) : Tari Lawung, Topeng, Merak dan Srimpi

II.  Fungsi dan Peranan Tari
A.    Fungsi Tari
1) Sebagai sarana sarana upacara
2) Sebagai hiburan
3) Sebagai penyaluran terapi
4) Sebagai media pendidikan
5) sebagai pertunjukan
6) sebagai media katarsis (pembersihan jiwa)

B.    Peranan Tari
1)    Tari sebagai media ekspresi
2)    Tari sebagai media komunikasi
3)    Tari sebagai media berpikir kreatif
4)    Tari sebagai media mengembangkan bakat

III.    Perkembangan Tari di Nusantara

Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut music pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ini disampaikan. Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan atau senam.
Apresiasi seni merupakan aktivitas mental yang mencakup penghargaan yang bersifat subjektif.
Seni tari adalah gerak yang mengandung makna symbol, yaitu gerak yang mengalami proses tertentu atau telah mengalami perubahan dari bentuk gerakan alami Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karya seni tari merupakan gerakan-gerakan yang telah mengalami stimulasi dan ritmis.
Tari Nusantara sangat banyak dan beragam. Setiap tarian memiliki cirri yang mencerminkan kekhasan daerah masing-masing. Ciri itu bisa dilihat dari ragam gerak, tat arias, tata busana. Perkembangan tari Nusantara daerah setempat berkaitan erat dengan sejarah perkembangan kerajaan yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi karena tari pada mulanya tumbuh dalam lingkungan keraton. Raja dan penghuni keraton biasanya menyaksikan tarian sebagai pengisi hiburan. Berbagai bentuk tarian diciptakan oleh para koreografer istana yang mendapatkan fasilitas khusus untuk tinggal dan berekspresi di lingkungan istana, sehingga keberadaan tari terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.
Para pencipta tari memiliki kebebesan untuk menciptakan gerak sesuai dengan keinginan masing-masing. Pada masa sekarang, banyak bermunculan sanggar-sanggar tari yang msih mengkhususkan diri untuk mengajarkan tarian tradisional. Keberadaan sanggar-sanggar tari ini jelas membantu bagi pelestarian tari tradisional.


STANDAR KOMPETENSI         :
5.         Mengapresiasi karya seni tari

KOMPETENSI DASAR  :
5.2     Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni tari di wilayah Nusantara

 INDIKATOR                             :
·               Gagasan tari dijelaskan berdasarkan bentuknya dengan rasa ingin  tahu, cinta tanah air dan sikap peduli lingkungan
·               Teknik karya seni tari dijelaskan berdasarkan unsur unsur pendukung dengan kreatif, gemar membaca, peduli lingkungan dan cinta tanah air
·               Teknik karya tari daerah setempat (nusantara ) dikembangkan kedalam bentuk kreasi tari dengan kreatif, kerja sama dan toleransi
                                   
Materi Pembelajaran :
·               Gagasan tari nusantara
·               Teknik karya tari

Alokasi Waktu             :
4 x 40 Menit


Materi :
I.            Gagasan Tari Nusantara

Gagasan tari ditetapkan dalambentuk tema kemudain dipersempit menjadi sub-sub tema dan akhirnya menghasilkan sebuah judul atai nama tarian. Selain itu, gagasan tari juga dapat pula bersumber dari tradisi yang ada.
Bentuk tari tradisi atau tari daerah dipengaruhi oleh bentuk tradisi, adat dan budaya daerah setempat. Landasan kreativitas (gagasan) seni tari nusantara terdapat dalam beberapa golonga, antara lain :
a.         Gagasan tari yang diambil dari kehidupan sehari-hari
Gerak tari yang berasal dari gerak sehari-hari yang distilir dan diberi bentuk ekspresif yang berirama. Contohnya :
1.       Tari Kebyar, Tari Tambulilingan dari Bali
2.       Tari Kipran dari Solo (tari yang mengungkapkan rasa cinta)
3.       Tari Koncaran, Tari Rela dari Sunda
4.       Tari Lilin dari Sumatera Barat
5.       Tari Kelana dari Yogyakarta

b.         Gagasan tari yang diambil dari cerita rakyat
Tari yang disusun dari cerita rakyat. Tari ini bersifat lakon dengan bentuk tari berpasangan atau tari kolosal (masal). Contohnya :
1.     Tari Sri Tanjung dari Jawa Timur
2.     Tari Jayaprana-Layon Sari dan Tari Calon Arang dari Bali
3.     Tari Roro Mendut – Prono Cito dari Jawa Tengah
4.     Tari Banjaran Sari dari Sunda

c.         Gagasan tari yang diambil dari dongeng atai cerita binatang (fabel)
Yaitu penyusunan tari berdasarkan gerak gerik binatang/meniru binatang. Jenis tarian ini sudah ada sejak zaman primitive. Tarian ini biasanya digunakan untuk upacara-upacara ritual sehinga karya tersebut bersifat ritual magis (kepercayaan pada kekuatan alam). Contohnya :
1.     Tari Merak, Tari Kupu-kupu dari Jawa Barat
2.     Tari Barong dari Bali
3.     Tari Reog dari Ponorogo Jawa Timur
4.     Tari Kudalumping, Tari Lutung Kasarung dari Jawa Tengah

d.         Gagasan tari diambil dari legenda masyarakat
Gagasan ini diambil dari legenda yang ada di masyarakat tertentu. Contohnya :
1.     Legenda Sangkuriangdan Dayang Sumbi
2.     Legenda Gunung Bromo
3.     Legenda Loro Jongrang

e.         Gagasan diambil dari cerita pewayangan
Tarian dari daerah Jawa Tengah ada yang mengambil gagasan dari cerita pewayangan JAwa. Contohnya :
1.     Epos Mahabarata
2.     Ramayana
3.     Babad Lokapala :
-       Perkawinan Arjuna dan Subadra
-       Perkawinan Arjuna san Supraba
-       Gatotkaca Gandrung
-       Kisah penculikan Sinta
-       Kerinduan Sukasrana kepada kakaknya

f.          Gagasan yang diambil dari permainan tradisi
Yakni penyusunan tari bersumber dari permainan yang hidup turun temurun di masyarakat. Kostum dan iringan serta gerak dibuat sederhana. Contohnya :
1.     Tari Lenso / Tari Saputangan dari Maluku
2.     Tari Tor-Tor Baro dari Batak
3.     Tari Tokecang, Gatrik, Perepet dari Jawa Barat
4.     Tari Jamuran, obak Sodor dari Jawa Tengah

II.          Teknik Karya Tari

Penguasaan teknik sangat penting dikuasai untuk mampu menggerakkan tubuh secara keseluruhan atau bagian-bagian ke dalam bentuk keindahan yang dimungkinkan oleh konstelasi tubuh.
Sebagai contoh teknik tariannya sebagai berikut :
1      Teknik Martha Graham
Ia seorang tokoh perintis tari modern di Amerika Serikat, yang menekankan teknik “relax and tension” atau tegang-kendur, yang merupakan prinsip kerja otot. Pada waktu kendur tenaga dilepaskan, napas dikeluarkan, pada waktu tegang tenaga dihimpun, dengan mengambil napas dalam-dalam. Wujudnya sebagai gerak mengempis dan mengembang, yan merupakan kontras gerak dinamis. Graham merupakan teknik gerak tari universal yang diciptakan secara individual.

2      Teknik Tari Tradisional
Merupakan teknik gerak yang tercipta atas landasann falsafah hidup daerah dan membudaya sebagai manifestasi kepribadian yang khas, seperti :
a.     Seni tari daerah Sumatera
Mendapat pengaruh kuat dari agama Islam, sehingga gerakan tari lincah dan gesit tetapi kurang ekspresif. Tata busana menutup anggota badan.

b.     Seni tari daerah Sunda (Jawa Barat)
Umumnya bertema tari pergaulan dengan gerak putus-putus yang kontras. Tari Sunda merupakan perpaduan antara tari Jawa dan Bali.
c.     Seni tari daerah Jawa (Jaa Tengah dan Jawa Timur)
Umumnya menggunakan susunan gerak yang mengalir dan tenang, iringan gamelan sesuai dengan gerak tari. Untuk gerak tari Jawa Timur agak keras dengan iringan music gamelan yang keras.
d.     Seni tari Bali
Bersifat menunjukkan dinamika gerak dan iringan tarian yang mempesona dan  mengesankan. Gerak tari gesit dan ekspresif, semua tubuh digunakan untuk mengekspresikan makna dan misi tari sehingga terkesan sacral. Iringan gamelan dengan irama keras menghentak-hentak. Umumnya didominasi penari wanita yang memiliki perwatakan lembut, iringan kontras menggebu-gebu terutama instrument gendang yang dimainkan oleh dua orang penari.
e.     Seni tari Kalimantan (suku Dayak)
Memiliki sifat magis karena banyak digunakan dalam upacara adat.


3      Teknik tari yang lain merupakan cara tertentu dalam gerak utamanya yang tampak khas, yang merupakan nikmat penghayatan tersendiri, seperti :
a.     Dangdut, menggunakan teknik gerak dan berhenti dengan lembut, halus lagi nyaman dan menampilkan keluwesan serta kebebasan gerak menurut selera dengan pusat gerak pinggulnya ke arah muka belakang (sagital). Teknik dangdut dapat dimanfaatkan bagi peningkatan keluwesan dan kreativitas motorik dengan tempo lamban.
b.     Rumba, adalah jenis tari Amerika Latin yang lembut dan erotic. Teknik geraknya rumba mengalun kontinu, dengan pusat geraknya pinggul kea rah samping (frontal). Sikap keseluruhan tubuh pada rumba lebih santai dibandingkan dengan dangdut.
c.     Serampang 12, pada hakikatnya memperagakan irama samba, yang popular sebagai irama Amerika Latin jenis bertempo cepat. Teknik Serampang 12 menunjukkan kelembutan pada langkah dan penapakan kaki, pusat geraknya bersifat vertical. Sikap santai keseluruhan tubh pada rumba mengikuti pola umum angka 8.
d.     Jaipongan, yaitu lebih mengutamakan teknik anggota badan dengan lengan sebagai pusat utama ekspresi. Geraknya berpangkal pada kesesuaian badan dan diperkuat oleh gerak bahu dan kepala yang sangat manis. Pada hakikatnya mempergunakan irama “gendang pencak Sunda” yang sangat menghidupkan bagi setiap gerak dan sikap maupun transisi, lebih lanjut diperkuat dengan “Tanjidor”.
e.     Ngrema, adalah tarian khas Jawa Timur yang merupakan tari tunggal, dimana gerakannya banyak mengunakan tekukan dengan pola gerak lingkar. Kerincing pada pergelangan kaki adalah khas dengan gerak dan bunyi yang cukup menyimpang dari tempo dasar menarinya.


STANDAR KOMPETENSI         :
6.        Mengekspresikan diri berkaitan dengan karya seni tari

KOMPETENSI DASAR  :
6.1  Mengidentifikasi gagasan untuk disusun ke dalam tari kreasi dalam bentuk tari tunggal atau berpasangan/kelompok

 INDIKATOR                             :
·               Gagasan tari dijelaskan berdasarkan konsep garapan dengan sikap rasa ingin tahu , jujur dan kreatif
·               Gagasan dieksplorasi ke dalam bentuk kreasi tari tunggal, berpasangan atau kelompok dengan kreatif, kerja sama dan kerja keras
·               Kreasi tari tunggal, berpasangan atau kelompok ditampilkan dengan penghayatan dengan kreatif, kerja sama dan kerja keras
                                   
Alokasi Waktu             :
4 x 40 Menit


Materi :

I.        Gerak Dasar Tari

Elemen penting dalam tari adalah gerak, yaitu gerak-gerak yang memiliki nilai ritmis tertentu dan erat hubungannya dengan tempo dan dinamika gerak. Gerak yang ada dalam kegiatan dan kehidupan kita sangat banyak macamnya, antara lain :
1.         Gerak sehari-hari (gerak wantah)
Yaitu gerak yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari – hari berupa gerak spontan, gerak – gerak meknis (gerak yang muncul akibat kebiasaan) maupun gerak – gerak khusus yang timbul karena suatu pengalaman yang sifatnya khas dan baru.
2.         Gerak berstruktur (gerak tari)
Yaitu gerak – gerak yang memiliki pola tertentu sehingga dapat ditiru dan dipelajari, gerak ini dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
a.     Gerak maknawi, yaitu  gerak – gerak tari yang besumber dari kehidupan sehari-hari, yang kemudian diperkaya (stilisasi) atau diromnak / disederhanakan (distorsi).
b.     Gerak murni, yaitu gerak – gerak tari yang disengaja diciptakan untuk keperluan tari dengan maksud menampilkan kesan keindahan atau artistiknya.
3.         Gerak koreograf (koreografi)
Adalah bentuk penampilan keseluruhan dari awal hingga akhir. Ritme dan organisasi geraknya memiliki konsep yang berhubungan dengan unsure luar gerak sebagai pendukung tarian, baik yang bersifat internal atau eksternal.

Untuk menjadikan rangkaian gerak tari, penari harus menguasai gerak dasar anggota tubuh sebagai sarana pengekspresian tari. Gerak dasar suatu tari dari beberapa kelompok, yaitu :
1.         Gerak kaki
Telapak kaki berperan penting dalam pelaksanaan sikap dan gerak kaki yang bisa menambah keindahan sikap gerask seluruh tubuh. Dasar sikap kaki yang utama adalah sebagai berikut :
a.     Sikap telapak kaki rapat kembar
b.     Sikap telapak kaki rapat silang
c.     Sikap telapak kaki renggang silang
d.     Sikap telapak kaki rapat siku
e.     Sikap telapak kaki renggang
Sikap telapak kaki yang tidak penuh dan banyak menghiasi gerak tari tradisional, di antaranya:
a.     Tumit terangkat kembar (jinjit)
b.     Menapak pada ujung kaki kembar
c.     Tekukan kaki : pada pergelangan, lutut dan pangkal paha.

2.         Gerak tangan
Merupakan cirri yang menonjol dari seni tari dunia Timur. Pada dunia Barat, gerak tari lebih menonjolkan gerak kaki sebagai ekspresi ide tari.

3.         Gerak bahu dan kepala
Gerakan ini sangat berperan pada tarian tradisi ketimuran di samping menjadi pelengkap pada gerak yang dapat memperkuat suatu sikap atau gerak.

4.         Gerak mata
Gerakan ini pelengkap dari sikap dan gerak kepala dalam mewujudkan keterpanaan pengungkapan bersama anggota badan lain.

5.         Gerak lambung
Sikap dan gerak lambung mengesankan bentuk badan membesar.

II.      Desain Kelompok dalam Tari

Teknik dasar tari berkelompok, yaitu sebagai berikut :
a.         Serempak (Unison)
b.         Seimbang (Balance)
c.         Terpecah (Broken)
d.         Selang – seling (Alternate)
e.         Bergantian (Canon)

III.    Pola Lantai

Pola lantai (desain lantai / floor design) yaitu garis-garis imajinatif di atas lantai yang dilalui oleh seorang atau sekelompok penari.
Pola lantai ada dua garis pokok, yaitu :
1.         Garis lurus : banyak digunakan dalam tarian klasik, menampilkan kesan sederhana tetapi kuat.
Contoh : pola lantai horizontal, vertical, diagonal, T, V.
2.         Garis melengkung : banyak digunakan dalam tarian rakyat dan tradisi, member kesan lembut dan lemah.
Contoh : pola lantai lengkung, lengung ular, lingkaran, angka 8, spiral.

Kesan jurusan/garis dengan penari menghadap penonton penggung arena, misalnya :
1.         Diagonal ke bawah, berkesan menyerang/mendadak.
2.         Diagonaln ke atas, berkesan takut atau mendesak.
3.         Vertikal ke bawah, terkesan kuat, berani dan agung.
4.         Vertikal ke atas, terkesan menguatkan rasa takut.
5.         Horisontal ke kanan/kekiri, kesannya tidak pasti, ragu-ragu, dan lemah.

Penguasaan tempat atau ruang tari dengan bermacam-macam tipe panggung dinamakan ruang gerak.


STANDAR KOMPETENSI         :
6.        Mengekspresikan diri berkaitan dengan karya seni tari

KOMPETENSI DASAR  :
6.2    Mendiskusikan tari  kreasi yang berbentuk tari tunggal atau berpasangan/kelompok
 INDIKATOR                 :
·               Gagasan didiskusikan berdasarkan konsep garapan dengan sikap rasa ingin tahu, jujur dan kreatif
·               Bentuk tari kreasi ditampilkan berdasarkan unsur unsur yang mendukung garapan tari secara kreatif, kerja sama dan kerja keras
·               Penampilan tari didiskusikan berdasarkan bentuk garapannya dengan kreatif, kerja sama dan kerja keras
                                    
Alokasi Waktu             :
4 x 40 Menit

Materi :
I.        Tema Dalam Tari

Berdasarkan isi atau kandungan yang usung dalam tarian, tari terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu:
1.         Tari dramatik adalah tari bercerita atau bertutur tentang seseuatu.
Meliputi : tari bertema, tari bercerita, dan drama tari (disebut juga sendratari, seni drama, tari).
2.         Tari nondramatik adalah tari yang tidak bercerita.

Seluruh tari dramatik dibangun oleh tema yang diungkapkan senimannya melalui medium ciptaan. Beberapa tema dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.         Tema baik – buruk
2.         Tema kegembiraan – kesedihan
3.         Tema persahabatan – permusuhan
4.         Tema perdamaian – peperangan
5.         Tema pengabdian – pengkhianatan
6.         Tema optimisme – pesimisme
7.         Tema keluhuran budi – kekerdilan jiwa
8.         Tema percintaan / cinta kasih – kebencian

II.      Langkah-Langkah Penyusunan Tari

Berkreasi adalah proses menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Proses penciptaan tarian adalah proses kreasi. Adapun langkah-langkah penyusunan tari adalah sebagai berikut :
1.         Menentukan tujuan
2.         Memilih tema
3.         Mengembangkan tema menjadi gerak maknawi
4.         Menyusun pola lantai dan desain kelompok
5.         Menentukan iringan music dan perlengkapan pentas
Tarian tradisional atau kedaerahan akan lebih berhasil apabila diiringi dengan music hidup, tetapi banyak tarian modern (tarian barat) akan lebih baik jika diiringi oleh music rekaman.
Perlengkapan pentas meliputi kostum, property, pentas dan penataan lampu.



STANDAR KOMPETENSI         :
7.        Mengapresiasi karya seni teater

KOMPETENSI DASAR  :
7.1    Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur estetis pertunjukan teater

 INDIKATOR                             :
·               Estetika pertunjukan teater dijelaskan sesuai dengan unsur-unsur pembentuk seni teater secara disiplin, kreatif, tanggung jawab dan jujur
·               Unsur-unsur teater dipadukan secara estetis dan dicobakan dalam pertunjukan teater kelas secara kreatif, kerja sama, toleransi dan komunikatif
·               Sikap apresiatif ditunjukkan dengan menyaksikan contoh pertunjukan teater secara tertib dan memberikan tanggapan setelah pertunjukan selesai dengan jujur, toleransi, menghargai prestasi dan komunikatif
                                   
Alokasi Waktu             :
4 x 40 Menit


Materi :
I.        Defini Seni Teater

Teater ada yang mengartikan :
1.         Sebagai gedung pertunjukan
2.         Sebagai panggung (stage)
3.         Secara etimologi (asal kata) adalah gedung pertunjukan (auditorium)
4.         Secara arti luas adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang dipertujukkan di depan orang banyak, misalnya : wayang orang, ludruk, lenong, ketprak dan tarling.
5.         Secara arti sempit adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media gerak, percakapan dan laku denganatau tanpa dekor (layer) didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik.

Perbedaan Drama Dengan Teater
Teater dan drama memiliki arti yang sama, tapi berbeda ungkapannya. Teater berasal dari kata Yunani Kuno theatron yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan
Drama juga dari kata Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku atau berakting. Drama cenderung memiliki pengerian ke seni sastra. Di dalam seni sastra, drama setaraf dengan jenis puisi dan prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat ke suatu pentas sebagai suatu bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa teater.
Kesimpulannya, teater tercipta karena adanya drama.

Hubungan Seni Teater dngan Cabang Seni Lainnya
1.     Seni Rupa
Seni rupa banyak dilibatkan dalam kegiatan tata rupa seperti tat pentas, dekorasi, tata rias, tata busana, tata lampu, poster, spanduk, tiket, booket, leftlet dan undangan. Seni rupa lebih menekankan pada segala sesuatu yang bersifat visual.
2.     Seni Musik
Seni music banyak dilibatkan dalam kegiatan tata music, tata suara, tata bnyi, tat lagu dan lain-lain. Keterlibatan seni music dalam seni teater  berfungsi sebagai berikut :
a.     Untuk menciptakan suasana (ilustrasi) pada adegan-adegan tertentu, seperti suasana sedih, menegangkan dan romantic. Ilustrasi music ini banyak ditemukan pada teater modern.
b.     Untuk memberikan penekanan pada adegang-adegan tertentu (aksentuasi).
Musik aksentuasi banyak ditemukan pada pementasan teater tradisional yang bernuasa komikal.
c.     Musik sebagai pengungkap adegan.
d.     Seni music lebih menekankan pada segala sesuau yang bersifat audio.
3.     Seni Tari
Seni tari dilibatkan dalam kegiatan tata gerak, tari, pencak silat, pantomime dan lain-lain. Seni ini lebih menekankan pada gerak-gerak tubuh.
4.     Seni Sastra
Pementasan teater pada dasarnya merupakan perwujudan dari naskah drama yang merupakan hasil karya sastra seperti penulisan sastra drama, gaya bahasa, pengucapan dialog dan lain-lain.  Seni sastra lebih menekankan pada segala sesuatu yang bersifar cerita atau lakon.

II.      Unsur – Unsur Pembentuk Seni Teater

Unsur – unsur pembentuk seni teater terdiri dari :
1.         Unsur Pokok (elemen dasar)
a.     Naskah / Cerita
Adalah suatu cerita tertulis untuk dipentaskan di panggung, TV, layar lebar atau radio. Dengan pengertian lain naskah merupakan karangan yang berbentuk dialog untuk dimainkan di hadapan penonton atau karangan tentang rangkaian kejadian yang menarik dari kehidupan untuk diceritakan atau dipertunjukkan di hadapan penonton. Naskah dapat saja berbentuk prosa dan puisi.
b.     Sutradara
Adalah orang yang mengkoordinasikan segala unsure teater dengan kecakapan serta daya khayal yang intelek sehingga mencapai suatu pertunjukan yang berhasil.
c.     Pemain
Adalah unsure yang dapat mengekspresikan keseluruhan gagasan-gagasan yang muncul dan dapat mewujudkan menjadi suatu bentuk pertunjukan teater.
d.     Penonton
Adalah saksi dari hasil akhir seluruh kerabat kerja, yang mengapresiasi dan menilai karya seni yang baru selesai dipentaskan. Suatu karya seni akan menjadi sia-sia jika tidak memiliki penikmat karya tersebut, karena dari merekalah akan mendapat masukan untuk meningkatkan mutu hasil karyanya.

2.         Unsur Pendukung (elemen artistik)
a.     Tata panggung
Adalah tempat diselenggarakannya pertunjukan merupakan tempat pemain dan penonton bertemu baik secara langsung (panggung dan arena) atau tak langsung (layar televise dan bioskop).
b.     Tata rias
Adalah cara mendandani pemain dalam memerankan tokoh tertentu agar lebih meyakinkan.
c.     Tata busana
Adalah pengaturan pakaian pemain agar mendukung keadaan yang dikehendaki sesuai dengan tempat adegan, karakter peran, waktu atau zaman cerita.
d.     Tata cahaya
Adalah pengaturan cahaya di panging atau saat pengambilan adegan dalam pembuatan film.
e.     Tata suara dan music ilustrasi
Adalh pengaturan pengeras suara, music pengiring dan suara-suara alam agar lebih mendukung adegan.

Unsur Estetis Teater dikelompokkan menjadi :
a.         Unsure Intrinsik
Unsur Intrinsik teater adalah unsure yang menbangun teater dari dalam teater itu sendiri, yang terdiri atas :
1.     Tema
2.     Tokoh
3.     Dialog
4.     Latar
b.         Unsur Ekstrinsik
Merupakan unsure yang membangun teater dari luar struktur teater,misalnya:
1.     Kondisi soal budaya
2.     Cara berpikir pengarang naskah

Jika kita membaca naskah drama, kita akan menemukan unsur - unsur berikut :
a.         Prolog
Adalah bagian awal naskah yang berisi tentang perkenalan naskah,merupakan Pendapat pengarang terhadap permasalahn yang akan di pentaskan
b.         Dialog
Adalah bagian yang terjadi ciri khas naskah drama dan teater merupakan bagian teks yang akan diucapkan oleh pemain teater dalam bentuk ucapan-ucapan dialog dalam naskah di tandai dengan pencantuman nama tokoh serta dialog yang diucapkannya.
c.         Petunjuk pementasan
Adalah petunjuk-petunjuk kasus yang melukiskan suasan,cara pengucupan,situasi,dan sebagainya,yang berbentuk teks dalam tanda kurung.Bagian naskah ini nantinya tidak diucapkan oleh pemain,tetapi merupakan hal penting tentang bagai mana harus bersikap dalam bagian tersebut.
d.         Epilog
Adalah bagian akhir naskah yang berisi tentang ke simpulan,biasanyadi sertai pesan Terhadap penonton/pembaca.
Adanya proses pementasan yang rumit membuat teater menjadi kompleks. Apa yang tersaji diatas pementasan adalah hasil kerja dari seluruh  anggota tim baik yang bersentuhan langsung dengan naskah maupun yang tidak bersentuhan langsung.
a.         Unsur yang tidak bersentuhan langsung dengan naskah
Unsur-unsur ini tidak secara langsung berkaitan dengan pemaknaan naskah dan pementasannya, tetapi sangat mendukung pementasan.
Yang termasuk unsure ini adalah:
1)        Pimpinan Produksi
2)        Sekretaris Produksi
3)        Keuangan Produksi/ Bendahara
4)        Utusan Dokumentasi
5)        Utusan Publikasi
b.         Unsur yang bersentuhan langsung dengan naskah
Adalah mereka yang semua tugasnya harus dilakukan berdasarkan pemahaman terhadap naskah yang akan dipentaskan. Unsur – unsur tersebut adalah :
1)        Sutradara
2)        Art director / Pimpinan Artistik
3)        Stage Manager
4)        Property Master
5)        Penata Cahaya
6)        Penata Kostum
7)        Penata Setting
8)        Perias / Make Uper
9)        Penata Musik


STANDAR KOMPETENSI         :
7.    Mengapresiasi karya seni teater

KOMPETENSI DASAR  :
7.2  Menunjukkan sikap apresiatif terhadap pesan moral (kearifan lokal) pertunjukan teater

 INDIKATOR                             :
·      Pesan moral dalam pertunjukan teater dijelaskan berdasarkan cerita/lakon yang disajikan dengan sikap cinta, tanah air, peduli lingkungan, jujur, komunikatif dan disiplin
·      Pesan moral dituliskan secara implisit ke dalam cerita sederhana dan dipraktekkan di depan kelas dalam bentuk pentas teater sederhana secara jujur, kreatif, kerja sama, komunikatif dan peduli social
Pesan moral dalam teater diapresiasi dan dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari atau pengalaman pribadi secara lisan dengan sikap jujur, kreatif, kerja sama, komunikatif, peduli social dan peduli lingkungan
                                   
Materi Pembelajaran :
  • Analisis lakon teater:
1.       Tema
2.       Plot/Alur
3.       Penokohan
4.       Latar/setting
5.       Sinopsis
6.       Pesan Moral
  • Mengarang cerita
  • Role playing (bermain peran)
·         Pertunjukan teater

Alokasi Waktu             :
4 x 40 Menit

Materi :
Unsur intrinsik  Dalam Teater

1.     Tema
Adalah persoalan pokok atau focus yang ada di sekitarnya sebuah cerita dibangun sebagai suatu kesatuan. Tema dapat berasal dari beberapa hal antara lain :
a.     Plot/struktur drmatik
b.     Suasana atau mood
c.     Tokoh
d.     Ide
2.     Plot / alur
Adalah rangkaian kisah atai cerita yang berurutan dalam drama yang saling berhubungan dengan menggunakan hokum sebab akibat. Keindahan alur cerita dapat dilihat dari tiga unsure, yaitu :
a.     Ketegangan (suspanse), dapat menimbulkan rasa penasaran dan ingin tahu penonton.
b.     Dadakan (surprise), unsure cerita yang mengagetkan penonton karena  dugaannya tidak tepat.
c.     Ironi dramatic (dramtic irony), unsure artistic alur cerita yang terakhir yang menutup cerita.

Alur drama tersusun atas bagian-bagian tersebut :
a.     Eksposisi
Merupakan bagian perkenalan yang menjelaskan segala sesuatu di dalam naskah,sehinga Pembaca (Penonton) mengenali ‘dunia’ serta situasi para tokoh maupun setng di dalam naskah tersebut.
b.     Komplikasi
Pada bagian ini,situasi dan permasalahan dalam kehidupan para tokoh mulai meruncing
c.     Klimaks
Pada bagian ini,masalah yang di alami tokoh mencapai puncaknya.terjadi puncak ketenangan dalam diri tokoh.
d.     Resolusi
Merupakan bagian akhir yang berupa penyelesaian masalah.
3.     Penokohan dan perwatakan
Penokohan berhubungan dengan nama pelaku, jenis kelamin, usia, bentuk fisik dan lain-lain. Perwatakan berhubungan dengan sifat pelaku, seperti pemarah, penyabar, keras, lemah lembut dan lain-lain.
Klasifikasi tokoh berdasarkan peranannya dalam cerita, yaitu :
a.     Tokoh Protagonis, tokoh yang mendukung jalannya cerita.
b.     Tokoh Antagonis, tokoh yang menentang cerita, biasanya memerankan watak jahat.
c.     Tokoh Tritagonis, tokoh pembantu protagonis maupun antagonis.
Klasifikasi tokoh berdasarkan fungsiny dalam cerita, yaitu :
a.     Tokoh Sentral
Yaitu tokoh yang paling menentukan gerak lakon, mereka yang mejadi biang keladi lakon, yakni tokoh protagonist dan anatagonis.
b.     Tokoh Utama
Yaitu tokoh penentang atau pendukung tokoh sentral atau perantara tokoh sentral. Dalam hal ini yang berperan tokoh tritagonis.
c.     Tokoh Pembantu
Yaitu tokoh yang meemgang peran pelengkap, tambahan. Tidak semua lakon membutuhkan tokoh pembantu.
4.     Latar / setting
Adalah keadaan tempat dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita tersebut. Setting meliputi tiga dimensi yaitu : tempat, ruang dan tempat.
Setting tempat berhubungan dengan lokasi dimana cerita itu berlangsung dan berkaitan erat dengan tata busana  dan tata music.
Setting ruang berhubungan dengan ruang dalam, teras, pendopo atau alam terbuka dan berkaitan erat dengan tata dekorasi.
Setting waktu berhubungan dengan kapan cerita tersebut terjadi.

Pesan Moral dalam Pertunjukan Teater
Pesan moral dalam teater adalah hal-hal yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton tentang ahklak dan budi pekerti manusia. Menurut Natawidjaja nilai dibagi menjadi tiga, yaitu : nilai material, nilai moral dan nilai spiritual.

1.     Nilai material
Adalah nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang disandarkan kepada factor kebendaan, artinya sebuah benda yang dilihat dari tinggi rendahnya daya tarik materi benda tersebut.

2.     Nilai moral
Adalah nilai yang berhubungan dengan tinggi rendahnya akhlak manusia.

3.     Nilai spiritual
Adalah besar kecilnya daya pendorong kepemilikan dari suatu benda.
Contoh:
a.     Pertunjukan “Barong” : Pertentangan antara Barong sebagai lambing kebajikan dengan Rangda sebagai lambing kejahatan. Dalam pertunjukan tersebut Rangda tidak bisa dibunuh, artinya kejahatan akan selalu ada dan sulit untuk dihilangkan. Nilai moral yang dapat diambil dari pertunjukan tersebut adalah kita harus selalu memerangi kejahatan, walaupun sulit dihilangkan.
b.     Pertunjukan “Mamanda” (dari Kalimantan Selatan) : Menggambarkan pertentangan anatara penguasa yang kurang bijaksana melawan warga masyarakat yang baik. Nilai moral yang dapat diambil dari pertunjukan tersebut adalah penguasa yang tidak bijaksana akan selalu ditentang oleh warganya, maka sebagai penguasa hendaknya bersikap bijaksana.
c.     Pertunjukan “Romeo dan Juliet” : pesan moral yang ingin disampaikan adalah keteguhan hati, prinsip, kemauan kuat terutama percintaan, orang lain tidak berhak menghentikan, percintaan tidak memandang latar belakang, status social seseorang, kesombongan akan mengakibatkan kerugian yakni kerugian diri sendiri maupun orang lain, perlu adanya dialog dalam menyelesaikan konflik, bunuh diri bukan satu-satunya cara menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan masalah baru yaitu kriminalitas dan mendapat siksa di akherat.

Langkah – langkah Penyusunan Naskah Drama

Adalah :
1.     Menentukan tema
2.     Kontemplasi
3.     Bertanya jawab dengan orang lain
4.     Menyusun garis besar jalan cerita


STANDAR KOMPETENSI         :
8.        Mengekspresikan diri berkaitan dengan seni teater

KOMPETENSI DASAR  :
8.1    Merancang persiapan pergelaran teater
 INDIKATOR                             :
·            Unsur-unsur pergelaran teater dijelaskan sesuai bidang dan fungsinya secara jujur, kreatif, kerja sama dan komunikatif
·            Pergelaran teater dirancang berdasar kerja  dan fungsi bidang dalam manajemen pergelaran (produksi) teater dengan sikap jujur, kreatif, kerja sama, komunikatif, peduli social dan peduli lingkungan
·            Rancangan pergelaran teater dilaksanakan dengan mematuhi prinsip kerja bidang dalam manajemen pergelaran (produksi) teater dengan jujur, kreatif, kerja sama, komunikatif, peduli social dan peduli lingkungan

                                   
Materi Pembelajaran :
·      Manajemen Pergelaran (Produksi) Teater
1. Bidang Produksi
2. Bidang Artistik
·      Perancangan produksi/pergelaran Teater
1.          Bidang Produksi
2.          Bidang Artistik
·         Praktek manajemen pergelaran (produksi) teater

Alokasi Waktu             :
4 x 40 Menit


Materi :
Persiapan Pementasan Teater
1.     Merencanakan Pementasan
Hal – hal yang perlu dipersiapkan adalah :
a.     Memilih naskah drama
b.     Mimilih sutradara
c.     Memilih pembantu sutradara
d.     Mempelajari naskah
e.     Menyusun buku kerja
f.      Memilih para pelaku

2.     Pengelolaan Pementasan
a.     Staf produksi
1)    Produser           : mengurus produksi secara keseluruhan, memilih karyawan, menentukan anggaran, program kerja dan memilih naskah.
2)    Sutradara          : memilih pelaku dan mengkoordinasikan seluruh pelaksanaan tugas teater drama.
3)    Stage Manager   : membantu sutradara dalam mengkoordinasikan pelaksanaan tugas teater drama.
4)    Desainer           : menyiapkan aspek-aspek visual.
5)    Petugas             : mengatur pentas, dekorasi, tata lamu, tata busana dan music.
6)    Pembisik           : pembantu pelaku yang mungkin lupa dialog/lupa bertindak
b.     Tata artistic
1)    Dekorasi           : dekoraso tidak boleh berlebihan karena dapat menutup unsure pokoknya.
2)    Tata lampu        : terdiri dari lampu kaki pentas, lampu pentas atas, lampu luar pentas, spot light dan papan skakel.
3)    Tata suara
4)    Tata music / baskground
5)    Tata rias           : seorang penata rias harus memahami peran dan watak yang akan dibawakan pelaku.
6)    Tata busana      : sangat diperlukan untuk mendukung watak pelaku dan mendukung setting pelaku.


STANDAR KOMPETENSI         :
8.    Mengekspresikan diri berkaitan dengan seni teater

KOMPETENSI DASAR  :
8.2 Menerapkan prinsip kerja sama dalam berteater
 INDIKATOR                             :
·               Prinsip kerjasama dijelaskan sesuai dengan keterkaitan peran dan fungsi antar unsur pokok teater dalam  pertunjukan dengan sikap jujur, kreatif, kerja sama, komunikatif, peduli social dan peduli lingkungan
·               Prinsip kerjasama antar unsur teater dilaksanakan dalam pelatihan teater secara jujur, kreatif, kerja sama, komunikatif, peduli social dan peduli lingkungan
·               Prinsip kerjasama antar unsur teater diaplikasikan dengan sungguh-sungguh dalam pergelaran teater di sekolah dengan jujur, kreatif, kerja sama, komunikatif, peduli social dan peduli lingkungan

                                   
Materi Pembelajaran :
·            Prinsip kerjasama dalam berteater
·            Peran dan fungsi unsur-unsur pembentuk teater
·            Pelatihan Teater
·            Pergelaran Teater


Alokasi Waktu             :
4 x 40 Menit


Materi :
Prinsip Kerja Sama Dalam Berteater
Berikut ini merupakan garis besar urutan kerja seta bentuk kerja sama dalam berteater :

a.     Penulis naskah menciptakan konsep pertama yang dinyatakan dalam bentuk teks naskah.

b.     Sutradara menganalisis teks dan menyelesaikan dengan tradisi-tradisi teater yang sudah ada, lalu membentuknya menjadi sebuah konsep produksi dan dibagikan kepada setiap seniman yang ikut ambil bagian.

c.     Sutradara menyampaikan konsep produksi kepada pemain dan terutama kepada penata panggung.

d.     Penata penggung bekerja sama dengan penata lighting, kostum dan make-up.

Pergelaran Teater
Tahapan – tahapan dalam suatu pergelaran teater adalah sebagai berikut :

1.     Gladi kotor
Adalah latihan secara keseluruhan, tetapi bukan secara rinci dan urut. PEnghitungan waktu bermain juga belum dilakukan secara cermat. Tujuan gladi kotor untuk memantapkan latihan sebelum memasuki gladi bersih.

2.     Gladi bersih
Adalah latihan keseluruhan yan dilakukan secara lengkap dan urut, adegan demi adegan dari awl hingga akhir serta penghitungan waktu dilakukan secara cermat. Semua dilakukan seperti pementasan yang sebenarnya.
Penataan artistik sangat perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya agar tidak mengganggu jalannya pementasan. Penataan artistic pentas meliputi penataan dekorasi, lamou dan cahaya.

3.     Pergelaran teater
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pementasan yaitu menyusun acara pementasan, menata ruangan dan menyajikan dengan teknik yang sesuai.

Peran dan Fungsi Unsur-unsur Pembentuk Teater
Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsure utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suau karya seni suara, seni bunyi dan seni rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan kehidupan manusia.
Dari rumusan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa unsure-unsur teater menurut urutannya adalah sebagai berikut :
1.     Tubuh manusia sebagai unsure utama (pemeran/pelaku/pemain)

2.     Gerak sebagai unsure penunjang

3.     Suara sebagai unsure penunjang (kata/untuk acuan pemeran)

4.     Bunyi sebagai unsure penunjang (bunyi benda, efek dan music)

5.     Rupa sebagai unsure penunjang (cahaya, rias dan kostum)

6.     Lakon sebagai unsure penjalin (cerita, noncerita, fiksi dan narasi)

Hal-hal yang harus dilakukan untuk mengolah tubuh agar dapat berperan dalam teater adalah sebagai berikut :

a.    Relaksasi

b.  Ekspresi

c.     Gesture
Adalah impuls (rangsanga), perasaan atau reaksi yang menimbulkan energy dari dalam diri yang selanjutnya keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam ; ketatapan tubuh, gerak, postur dan infleksi (perubahan nada suara, bisa mungkin keluar dalam bentuk kata-kata atau bunyi).

d.     Gestikulasi
Adalah bahasa tubuh sebagai media komunikasi antar manusia ang menggunakan isyarat tubuh, postur, posisi dan perangkat indranya. Dalam media ini kita akan memahami bahas universal tubuh manusia dalam aksi mauun reaksi di keidsupan sehari-hari.

e.     Olah mimik

f.      Olah tubuh

1 komentar: